Senin, 23 Februari 2009

Melongok Kampung Bersih di Kertajaya IV C RT 07/RW 13 Surabaya (2)

DAUR ULANG SAMPAH : Setiap KK di Kampung Anggrek Kertajaya IV C RT 07 /RW 13 mampu mendaur ulang sampah organik menjadi kompos (foto Mer’s/Brt)

 
*Kuncinya Kekompakan dan Konsistensi Warga

PREDIKAT kota terkotor nomor dua untuk kategori kota besar memang cukup mengagetkan, meski Walikota dan Wakil Walikota Banjarmasin, HA Yudhi Wahyuni dan H Alwi Sahlan telah bekerja keras untuk mewujudkan Banjarmasin yang bersih dan bebas dari sampah. Setiap warga manapun, termasuk warga Banjarmasin, tentu menginginkan lingkungan tempat tinggalnya yang bersih, asri, sehat dan tentu saja nyaman . Untuk mewujudkan itu, mungkin tak ada salahnya kita mencoba meniru kiat dari warga Kertajaya IV C RT 07/RW 13 Surabaya, yang menjadi Juara Kampung Bersih (Green n Clean) 2006 baru-baru ini

Oleh Mercurius

Pada tulisan bagian pertama, disebutkan, keindahan anggrek yang menjadi salah satu maskot atau ikon kampung yang memiliki 118 Kepala Keluarga (KK) itulah, sehingga mampu meraih Juara Kampung Bersih (Surabaya Green and Clean 2006) . Lantas,apakah hanya itu saja, membuat kampung anggrek terpilih sebagai juara? Tentu saja tanpa didukung lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah, tak mungkin gelar itu diraih. Kampung Anggrek sendiri cukup luas, dengan panjang jalan sekitar 370 meter dan lebar 6 meter. Perlu tenaga ekstra untukmenjaga kebersihan dan perawatan kampung.”Namun itu bukan masalah lagi karena kesadaran warga tentang kebersihan sudah terbentuk sejak lama” beber Koordinator Seksi Lingkungan Hidup, Kampung Anggrek Kertajaya IV C RT 07/RW 13. Gatot Sumianto. Sekadar diketahui, pengurus PKK Kampung Anggrek, selain dilengkapi kelompok Dasa Wisma, juga dilengkapi 8 kader lingkungan serta 1 juru pengamat jentik (jumantik). Soal pengelolaan sampah, warga disana sudah memilah dan mengolah sampah (daur ulang) menjadi kompos. Untuk setiap 10 KK, disediakan satu drum besar untuk komposter aeorob untuk rumah tangga (pendaur ulang sampah) melalui bimbingan para kader-kader lingkungan yang merupakan ujung tombak dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan asri. Namun tambah Ketua RT, Budiman, terlepas dari semua itu, kunci yang paling embuat kampung mereka meraih poin tertinggi adalah kekompakan dan konsistensi warga untuk mewujudkan kampung yang bersih dan hijau. Maksudnya, yang menjaga kebersihan tidak hanya para ibu atau bapak saja. Anak-nakanpun ikut mewujdukan kampung yang green and clean (hijau dan bersih). Kedepan, beber Budiman, Kampung Anggrek ini diproyeksikan menjadi kampung wisata, dengan mengandalkan, anggrek sebagai ikon. Alasannya, anggrek sangat sulit dikembangkan di iklim Kota Surabaya yang panas. 

Berkaca dari, Kampung Anggrek Kertajaya IV C RT 7/RW 03, jika dikaitkan dengan tekad Walikota Banjarmasin H A Yudhi Wahyuni yang ingin meraih Adipura 2007 mendatang, tentu sebuh tekad yang bisa diwujudkan. Tentu saja melalui kekompakan dan konsistensi warga yang sadar bahwa kebersihan adalah sebagian daripada iman ! Karena itu marikita wujudkan Banjarmasin yang bersih, sehat dan asri. Semoga
*****

DITERBITKAN : 11-07-2006
http://wartaputradayak.blogspot.com/

Melongok Kampung Bersih di Kertajaya IV C RT 07/RW 13 Surabaya (1)


KAMPUNG ANGGREK : Selain didukung lingkungan yang asri, bersih, dan sehat,, di setiap rumah warga ataupun di sudut-sudut jalan, Kampung Kertajaya IV C RT 07selalu dihiasi tanaman anggrek, sehingga terlihat indah dan sedap dipandang mata (Foto: Mer’s/Brt)


* Kawasan Asri Sehat dengan Ikon Anggrek

 PREDIKAT kota terkotor nomor dua untuk kategori kota besar memang cukup mengagetkan, meski Walikota dan Wakil Walikota Banjarmasin, HA Yudhi Wahyuni dan H Alwi Sahlan telah bekerja keras untuk mewujudkan Banjarmasin yang bersih dan bebas dari sampah.Setiap warga manapun, termasuk warga Banjarmasin, tentu menginginkan lingkungan tempat tinggalnya yang bersih, asri, sehat dan tentu saja nyaman . Untuk mewujudkan itu, mungkin tak ada salahnya kita mencoba meniru kiat dari warga Kertajaya IV C RT 07/RW 13 Surabaya, yang menjadi Juara Kampung Bersih (Green n Clean) 2006 baru-baru ini


Mercurius, Banjarmasin

Saat akan memasuki kampung Kertajaya IV C RT 07/RW 13, Kecamatan Gubeng, Surabaya (Jawa Timur), sejauh mata memandang, terhampar pemandangan rumah warga yang selalu berhiaskan tanaman anggrek berwarna-warni, dari mulai saat anda memasuki pintu gerbang hingga sudut-sudut rumah warga manapun di kampung yang dijuluki kampung anggrek itu.
Ya! Keindahan anggrek itulah yang menjadi salah satu maskot atau ikon kampung yang memiliki 118 Kepala Keluarga (KK) itu, sehingga mampu meraih Juara Kampung Bersih (Surabaya Green and Clean 2006) yang diumumkan pada 20 April lalu, setelah pada tahun sebelumnya, atau tahun 2005, kampung ini hanya berhasil menempati urutan kedua.  
Menurut Ketua RT 07 /RW 13 Kampung Kertajaya IV C, Budiman, kebiasaan menanam anggrek di kampungnya berawal dari hobi dari salah seorang warga, Hj Moertini Sucipto, pada tahun 1990, yang menularkannya kepada warga lainnya, yakni Yatna Gatta. Kemudian, setelah tanaman anggreknya berhasil tumbuh, wanita yang kini menjadi Penasihat Pengurus PKK Kampung Anggrek Kertajaya ini, menanam anggrek di kedua mulut kampung itu.”Nah, keindahan anggrek itu akhirnya memacu warga lainnya untuk turut menanam anggrek di rumah nya masing-masing,” beber Budiman.  
Agar kebiasaan menanam anggrek ini tetap lestari di kampung yang jumlah penduduknya saat ini berjumlah 323 jiwa ini, menurut Budiman, ada kiat-kiat yang dilakukan. Di antaranya, menggali kesadaran masyarakat, misalnya di setiap rumah minimal harus ada dua tanaman anggrek. Dan salah satu kiat utamanya, setiap warga yang mengurus KTP atau KK, diwajibkan membawa satu tanaman anggrek atau toga, melalui pengurus 5 (lima) Dasa Wisma RT 07 Kampung Anggrek Kertajaya, yang nama dasawismanya diambil dari nama-nama buah itu. 
“Tanaman itu kemudian dikembalikan lagi ke kampung, di rumah warga mana atau sudut perumahan yang perlu ditanami lagi anggrek.” beber Budiman, yang dibenarkan, Ketua PKK Kampung Anggrek Kertajaya, Ny Neneng Budiman, didampingi beberapa pengurus lainnya, termasuk Koordinator Seksi Lingkungan Hidup, RT 07, Gatot Sumianto, kepada beberapa wartawan Banjarmasin, termasuk wartawan Barito Post yang berkunjung ke kampung itu, Senin (3/7) baru-baru tadi. 
Dan untuk kiat itu, mereka memiliki slogan, yang namanya Sajisapo, Satu Jiwa Satu Pohon
bersambung…

DITERBITKAN 10-07-2006

http://wartaputradayak.blogspot.com/

Alwi Ragukan Kebijakan Konversi Mitan ke-Elpiji


*Sering hanya Untungkan Keluarga Dekat
Banjarmasin, BARITO 
 Wakil Walikota (Wawali) Banjarmasin, Drs Alwi Sahlan, MSi tampaknya meragukan program pemerintah tentang konversi pemakaian minyak tanah (mitan) ke liquified petroleum gas (LPG) atau elpiji. 
Program konversi miran ke elpji agar tidak tergesa-gesa dan perlu pemikiran, karena dikhawatirkan justru dapat menyusahkan dan memberatkan rakyat, katanya kepada wartawan, Jumat (4/4)  
Alwi Sahlan mengkhawatirkan dalam kebijakan konversi mitan ke elfiji itu maksudnya untuk kesejahteraan rakyat tetapi nantinya justru menguntungkan hanya sebagian orang saja. “Beberapa kali pengalaman sebelumnya kebijakan nasional yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak dan berkaitan dengan perekonomian selalu menguntungkan sebagian orang saja atau keluarga dekat” sindir mantan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kalsel yang dikenal . 
Makanya dalam soal konversi mitan ke elfiji ini perlu pula dicermati keuntungan bagi siapa kebijakan ini, tetapi kalau memberatkan masyarakat luas sudah selayaknya kebijakan ini ditolak saja, namun sebaliknya kalau bagi kepentingan umum seharusnya pula kebijakan ini didukung sepenuhnya. 
Selain itu, pemerintah pusat harus benar-benar mengatur dalam masa transisi tersebut, jangan sampai menimbulkan gejolak, seperti ketika mitan ditarik di peredaran tabung gas menghilang, atau harganya sangat mahal, atau gasnya yang tidak ada, akhirnya terjadi keresahan akibatnya bukan menambah kestabilan melahan menimbulkan masaah baru. 
Apalagi untuk saat ini agaknya tidak ada alternatif lain bagi rumah tangga dalam pemanfaatan bahan bakar, kecuali menggunakan minyak tanah atau gas elfiji tersebut, masalahnya kalau kembali ke zaman dulu menggunakan kayu, kayunya sudah tidak ada lagi. 
Begitu juga kalau memanfaatkan briket batubara atau arang, siapa yang memulai memproduksi itu, lalu bagaimana tempat pembakarannya dan sebagainya, semua itu harus benar-benar dipikirkan. 
Oleh karena itu, tambahnya Pemko Banjarmasin mendukung kebijakan pemerintah pusat itu bila penerapannya melalui proses yang benar dan tidak memberatkan masyarakat luas. 
Sementara berdasarkan sebuah pemberitaan, pemerintah menunjuk Pertamina sebagai pelaksana konversi minyak tanah ke elpiji. Kendati demikian pemerintah masih membuka kesempatan kepada badan usaha lain untuk masuk ke bisnis ini. 
Program konversi minyak tanah ke elpiji pada tahun 2007 hingga akhir tahun 2010 akan dilakukan di 17 kota yang tersebar di Jawa dan luar Jawa. Pelaksanaan konversi akan mempertimbangkan kedekatan dengan sumber bahan baku gas elpiji dan kemampuan fasilitas tangki timbun elpiji yang tersedia. 
Ke-17 kota itu adalah Medan, Batam, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Cilegon, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Ampenan, Balikpapan, Banjarmasin, dan Makassar.
ant/mr’s

DITERBITKAN 04-04-2008

http://wartaputradayak.blogspot.com/

Padi Kampanye Anti Narkoba di Diskotik Athena

Banjarmasin, BARITO
Siapa bilang diskotik selalu identik dengan peredaran narkoba, nyatanya diskotik bisa difungsikan untuk sebuah pertunjukkan musik berkelas. Setidaknya demikian imej yang coba dibangun pihak Banjarmasin One Stop Entertainment (BOEC) Hotel Banjarmasin Internasional (HBI) yang mengelola diskotik Athena, 
Tak tanggung-tanggung, pihak BOEC mendatangkan salah satu kelompok musik anak muda papan atas, Padi yang akan menggelar konser sekaligus kampanye anti narkoba di diskotik Athena, Jumat (2/12) malam besok, mulai pukul 19.30 wita . 
 Menurut General Manager HBI, Dianto, pihaknya sengaja merubah konsep diskotik yang biasanya digeber dengan irama house music menjadi sebuah panggung pertunjukkan, khusus pada malam itu.”Sebenarnya ini proyek rugi, namun hal ini perlu kita lakukan untuk merubah imej diskotik yang selalui diidentikkan dengan narkoba. Ini lo diskotik bisa menjadi tempat pertnjukan musik” ujar Dianto didampingi Manajer dan Marketing BOEC, Djujum dan Yanti, kepada wartawan, Rabu (30/11)  
Oleh karena itulah, rencananya ditengah-tengah pertunjukkan yang bertajuk Say No To Drug With Padi itu, akan ada sedikit penyuluhan narkoba baik oleh Padi sendiri atau dari Polda Kalsel.”Sebenarnya, Ketua BNP Kalsel yang juga wagub kita, H Rosehan yang rencananya akan memberikan penyuluhan, namun karena pada malam itu beliau berhalangan, mungkin nantinya dari Polda Kalsel” tambah Dianto.
Konsep panggung sendiri akan disetting dengan ukuran 10 x 7 meter, sehingga dengan kapasitas rata-rata 4000 pengunjung, setidaknya masih bisa menampung lebih kurang 3500-an sobat Padi malam besok. Selain Padi, timpal Djujum, penonton juga akan dihibur penampilan energik DJ Energy dan breaker nasional, yang akan membawakan lau-lagu berirama Rhythm n Blues (R&B) dan Hip Hop.
Khusus untuk keamanan penonton, Djujum menjelaskan, pihak BOEC, selain menyiapkan klinik dan dokter serta peralatan pernafasan. Juga kekhawatiran akan terjadi hal yang tak diinginkan diharapkan kemungkinan tak akan terjadi. Sebab panitia sendiri telah mengantisipasi jumlah tiket yang disesuaikan dengan kapasitas diskotik.”Pintu keluar masuk juga ada dua, di lantai 5 dan 6 (Box dan VIP Room) untuk VIP” tambahnya. Menurut Yanti, harga tiket-rata-rata untuk kelas festival Rp80 000, sedangkan untuk box dengan jumlah 5 dan 10 penonton rata-rata Rp1-1,5 juta, dengan fasilitas snack dan minuman ringan. Sementara tiket kelas VIP dengan jumlah 8 dan 12  
Penonton harga tiket mulai Rp2-3 juta.”Pembelian tiket mulai dari sekarang di radio DBS, Nusantara, Ash-Bone, Gema FM serta di HBI sendiri melalui resepsionis atau di BOEC ” sebut Yanti.
Bagaimana penampilan Piyu [gitar], Rindra [bas], Fadly [vokal], Yoyok [drum], dan Ari [gitar] di diskotik Athena? Kita tunggu jawabannya Jumat malam besok.
Mer’s

DITERBITKAN 01-12-2007

http://wartaputradayak.blogspot.com/

Minggu, 22 Februari 2009

*Dewi Persik Kagumi Sungai di Kalsel


LAHAP NON : Dewi Persik memang sosok artis berkepribadian sederhana, tanpa canggung si goyang gergaji ini makan nasi bungkus yang dibeli langsung dari pedagang pasar terapung yang menggunakan jukung (perahu)  disela-sela mendampingi hukumnya Hj Endah E Murnalita SH yang juga Caleg DPR-RI Dapil 1 Kalsel saat membuka lomba dayung tradisional di Desa Terantang Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala (Batola)
(Foto : Mer's/Brt) 

PILIH YANG MANA : Dewi Persik bersama kekasihnya Aldi Taher dan kuasa hukumnya Hj Endah E Murnalita SH yang juga Caleg DPR-RI Dapil 1 Kalsel membeli buah-buahan dari Jukung disela-sela pembukaan lomba dayung tradisional di Desa Terantang Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola, Minggu (23/2)
 

AKRAB  :Dewi Persik bersama wartawan Barito Post, Mercurius dan Kalimantan Post, Hj Sunarti saat berada di Speed Boat menuju Desa Terantang Kecamatan Mandastana Kabupaten Batola mendampingi  Hj Endah E Murnalita bersama Ketua DPD Partai Hanura Kalsel H Aliansyah Effendy membuka lomba dayung tradisional di Desa Terantang Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola, Minggu (23/2) (Foto : Mer's/Brt)

Airnya ’’Butek” tapi tak Berbau 

KALIMANTAN Selatan (Kalsel) adalah salah satu provinsi yang memiliki potensi sumber daya alam yang kaya dan corak kebudayaan yang beraneka ragam. Salah satui potensi itu, adalah banyaknya sungai-sungai besar dan kecil yang mengalir membelah daerah ini, Sungai Barito dan Sungai Martapura. Tak pelak, artis Dewi Persik pun terpesona oleh panorama dan kehidupan sungai ini.

Potensi sungai di Kalsel, bagi seorang artis dangdut Dewi Persik, seolah menyimpan aura tersembunyi dengan misteri dan keindahannya yang layak dinikmati
Itulah pengakuan polos yang diungkapkan Dewi Persik seusai mendampingi kuasa hukumnya, Hj Endah E Murnalita SH, yang menjadi Calon Anggota Legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalsel 2 dari Partai Hanura Kalsel, menghadiri pembukaan lomba dayung tradisional di Desa Terantang, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Minggu (22/2).
”Jujur saya akui, saya memang suka petualangan. Melihat sungai di Kalimantan Selatan ini ada sesuatu yang bikin aku tertarik,” ujar si ‘Goyang Gergaji’ itu di sela-sela makan siang di Rumah Makan Soto Abang Amat di Jl Banua Anyar Banjarmasin.
Oleh sebab itulah, meski untuk mencapai Desa Terantang, Kecamatan Mandastana, bisa dicapai lewat darat, mantan istri Saiful Jamil yang datang bersama kekasihnya pesinetron Aldi Thaher itu lebih memilih naik speed boat, siang kemarin.
Dewi Persik benar-benar menikmati perjalanan sungainya, meski siang itu sinar matahari cukup menyengat. Baik selama perjalanan menuju lokasi lomba hingga kembali ke Soto Ayam Abang Amat tak henti-hentinya dia melambai-lambaikan tangannya ke warga yang berada di sepanjang sungai.
Barito Post yang cukup beruntung berada dalam satu speed boat bersama Dewi Persik, melihat betapa sang artis yang berada di lokasi lomba rela berpanas ria, bolak balik mendampingi Hj Endah E Murnalita SH yang disebutnya sang bunda, dan Ketua DPD Partai Hanura Kalsel H Aliansyah Effendy mengibarkan bendera start pada lomba yang diikuti 49 peserta itu.
Sesekali dia berteriak-teriak memberikan semangat kepada para peserta. Aldi Taher pun mengaku, pengalaman menyusuri sungai merupakan petualangan yang seru baginya.
Meski hari itu Dewi Persik tidak melantunkan suaranya, namun ribuan warga Batola, khususnya warga Desa Terantang, yang berjejer di pinggir sungai dan di atas jukung (perahu), merasa terhibur oleh keramahan dan kelincahan pedangdut yang baru-baru ini berduet dengan penyanyi pop Glenn Fredly lewat lagunya Hikayat Cinta itu

Sesekali, Dewi Persik menggoyangkan tubuhnya mengeluarkan jurus goyang gergajinya. Kesederhanaan pedangdut yang sering dicekal manggung dengan alasan goyangannya dianggap”keterlaluan” itu terlihat saat dia dengan lahap menyantap nasi bungkus dan wadai (kue) khas banjar yang dibeli “sang bunda” dari jukung pasar terapung. Menurutnya, kehidupan di sungai dengan jukung-jukung tradisional layak dilestarikan. Karena itulah, Dewi Persik mendukung lomba dayung tradisional yang digagas dan disponsori Hj Endah E Murnalita dan H Aliansyah Effendi itu. ”Lihatlah bagaimana negara Thailand mampu memanfaatkan potensi sungainya menjadi sebuah daya tarik wisata” ucapnya membandingkan.Bagi Dewi Persik, meski sungai di Kalsel ini “butek” atau berwarna coklat, namun aromanya wangi alias tak berbau. Suatu pernyataan yang polos dan tanpa bukti ilmiah. Namun, yang pasti pernyataan sang Dewi Persik setidaknya menjadi pemacu bagi kita untuk terus melestarikan sungai-sungai yang merupakan aset dan potensi daerah

.mr’s

DITERBITKAN 23-02-2009 

http://wartaputradayak.blogspot.com/

Kuasa Hukum Dewi Persik ternyata Urang Banua


KIBAR BENDERA : Hj Endah E Murnalita bersama Ketua DPD Partai Hanura Kalsel serta Dewi Persik dan kekasihnya Aldi Taher saat mengibarkan bendera start pada lomba dayung tradisional di Desa Terantang Kecamatan Barito Kuala (Batola) Minggu (22/2) (Foto : Mer’s/Brt)

Spirit Majukan Daerah melalui DPR-RI
Marabahan, BARITO 
Pemirsa televisi swasta nasional di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang menggemari berita-berita dari dunia hiburan dan selebritis (infotainment) khususnya berita Dewi Persik sering melihat sosok wanita lembut yang mendampingi sang artis sebagai kuasa hukumnya.
Misalnya saja pada berita persidangan cerainya dengan Saiful Jamil, sang kuasa hokum yang dikenal dengan nama Hj Endah E Murnalita SH itu bersikap tak hanya sebagai lawyer . Namun juga bersikap sebagai ibu yang melindungi dan mengayomi si goyang gergaji itu.
 Nah, masyarakat Kalsel mungkin tak banyak yang tahu, kalau Hj Endah E Murnalita SH ternyata asli urang banua dari Amuntai (Hulu Sungai Utara) 
Menawatkan sekolahnya di SMPN 3 dan SMAN 3 Banjarmasin, lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ini langsung berkiprah di dunia advokat .
Buka praktek dari kantornya di lantai delapan Gedung ITC Permata Hijau Permata Hijau, karir putri mantan Pembantu Gubernur Kalsel (alm) H Hanafiah cukup melejit di kalangan dunia advokat. 
Berbagai kasus cukup besar ditanganinya diantaranya kasus Beddu Amang yang terjerat kasus korupsi tukar guling Bulog dan Goro.  
Sahabat pengacara kondang Elsa Syarief ini juga menangani berbagai kasus selebritis, seperti foto syur (alm) artis Sukma Ayu dan B’Jah, jadi kuasa hukum Leony dan terakhir Dewi Persik.
Dan bersama Dewi Persik ini, Hj Endah yang kini kembali ke daerah untuk maju sebagai Calon Anggota Legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalsel 1 dari Partai Hanura itu nampaknya sangat dekat bak ibu dan anak. 
Hal ini diakui sendiri oleh Dewi Persik saat bersama kekasihnya Aldi Taher mendampingi Hj Endah dan Ketua DPD Partai Hanura Kalsel H Aliansyah Effendi membuka lomba dayung tradisional di Desa Terantang Kecamatan Barito Kuala (Batola) Minggu (22/2)”Bunda Endah lah yang selama ini mengayomi dan melindungi saya, apalagi saya ini kan perantauan yang mencari nafkah di Jakarta” ungkap Dewi Persik saat memberikan sambutan di depan ribuan warga Batola yang menyaksikan lomba dari pinggir sungai.
Hj Endah E Murnalita SH sendiri kepada Barito Post mengakui, saat dia memutuskan maju untuk mewakili rakyat Kalsel di DPR RI banyak potensi-potensi daerah yang ingin diperjuangkannya di pusat. Diantaranya dia ingin meningkatkan kesadaran hukum di daerah yang menurutnya masih rendah.”Kalseljuga kaya akan potensi-potensi Sumber Daya Alam ( SDA) seperti sungai, karena itulah saya berpikir sebelum ke Batola ini apa yang ingin saya berikan , nah karena disini sungai menjadi urat nadi, saya tertarik menggelar lomba dayung ini. Untungnya keingingan saya juga dibantu dan didukung Pak Aliansyah Effendi (Ketua DPD Partai Hanura Kalsel” urainya.
 Hj Endah yang mengaku sejak dulu mengagumi sosok Jend (Purn) Wiranto yang kini Ketua Umum DPP Partai Hanura itu bertekad jika dia terpilih sebagai anggota DPR-RI Kalsel akan berupaya sekuat tenaga memperjuangkan daerah, khususnya dari Dapil Kalsel 1 (Batola, Banjar, Tapin, HSS, HSU, HST, Balangan dan Tabalong) yang diwakilinya
mr’s


DITERBITKAN 23-02-2009

Mengenal SABAN, Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin


ANTIK : Walikota Banjarmasin H Akhmad Yudhi Wahyuni Usman mengayuh sepeda onthelnya bersama ratusan penggemar sepeda antik yang menamakan dirinya Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (SABAN) . Minggu (22/2)
 Walikota dikenal sebagai pembinan SABAN yang beranggotakan walikota hingga tukang becak (Foto : Ist/Brt)


ANTIK : Walikota Banjarmasin H Akhmad Yudhi Wahyuni Usman berfoto bersama para penggemar sepeda antik yang menamakan dirinya Komunitas Sepeda Antik Banjarmasin (SABAN) Foto : Mer's/Brt)

Penggemarnya dari Walikota hingga Tukang Becak
Banjarmasin, BARITO 
HARI Minggu, (15/2)pagi di Komplek Buncit Indah, Sasana Santi Km 5 Banjarmasin atau
bertempat di kediaman Adrianto WD Pou nampak berjejer ratusan sepeda antik di pinggir jalan tersebut.
Sementara di dalam rumah para pemilik sepeda lengkap dengan kostum tempo doeloe ataupun kaos komunitas sepeda asik mengobrol seraya menikmati berbagai makanan dan minuman yang disajikan tuan rumah 
Nampak diantara mereka hadir pula Walikota Banjarmasin H Akhmad Yudhi Wahyuni Usman

Ya mereka adalah para penggemar sepeda onthel lama (antik) yang menamakan dirinya
Komunitas SABAN, atau kepanjangan dari Sepeda Antik Banjarmasin.
Mereka sendiri baru menempuh perjalanan dari kawasan Basirih,Lingkar Selatan dan berkumpul di kediaman Adrianto WD Pou
Bermula dari obrolan ringan dan kecintaan kepada sepeda ontel, serta pengaruh kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di awal tahun 2008, SABAN dibentuk pada 17 Agustus 2008.
Soal pemilihan nama SABAN sendiri menurut Ketua SABAN Sunarno,mempunyai arti tersendiri . Karena komunitas ini diresmikan pada Bulan Agustus atau Bulan Syaban untuk penanggalan kalender Islam. Dan bukan kebetulan pula SABAN bisa diakronimkan menjadi Sepeda Antik Banjarmasin. “Anggotanya saat ini mencapai 200 an tak ada syarat khusus, asal memiliki sepeda onthel antik, silahkan bergabung” ujar Sunarno.
Anggota SABAN sendiri memang dari berbagai usia, golongan dan profesi mulai dari walikota hingga tukang becak 
Senada dikatakan salah satu penggemar sepeda antik, Adrianto WD Pou bahwa SABAN anggota tak memandang strata social atau suku.”Kami berkumpul setiap minggu, rencananya minggu depan pak walikota jadi tuan rumah, dan kami berkumpul di depan Siring Jalan Jenderal Sudirman” tambah pria etnis Tionghoa ini yang diamini Wahyu anggota lainnya yang berprofesi sebagai PNS.
Asri salah seorang penarik becak yang juga anggota Komunitas SABAN, mengakui menjadi anggota komunitas sepeda antik, selain memperluas wawasan, juga adanya rasa kesetia-kawanan antar sesama anggota tanpa pandang strata sosialnya.”Pokoknya semuanya enjoy dan yang penting kita sehat” tambahnya.
Walikota Banjarmasin HA Yudhi Wahyuni Usman yang memang dikenal sebagai penggemar sepeda (sekadar catatan, di era memulai pemerintahannya walikota menggalakkan Jumat bersepeda bagi pejabat di lingkungan Pemko Banjarmasin, red) mengaku sangat mendukung keberadaan Komunitas SABAN. 
Dengan bersepeda ontel, lanjut Yudhi Wahyuni bisa menjadi gaya hidup sehat serta mengingat-ingat kondisi ketika tahun 1920-an, masa perjuangan, pra-kemerdekaan. Karena masa itu, masyarakat di Indonesia masih memakai sepeda ontel. 
Walikota yang dalam struktur SABAN didaulat sebagai Pembina bahkan mengatakan, komunitas sepeda antik juga menjadi salah satu pionir pelopor hidup sehat dan bersih.”Nanti kita akan bikin pula acara naik sepeda sembari membawa plastic untuk memungut sampah di jalanan”pungkasnya
mr’s 

DITERBITKAN 16-02-2009

http://wartaputradayak.blogspot.com/